PANGGILAN TUHAN YANG
MENGUBAHKAN HIDUP
Khotbah Lukas 5
: 1-11
Pendahuluan
Saudara-Saudara, beberapa tahun yang lalu sebuah surat kabar menuliskan headline yang cukup besar pada halaman
utamanya: “Heroik, Bill Clinton bebaskan dua wartawan.” Kisah ini rupanya
dimulai dengan ditawannya dua orang wartawan Amerika, Laura Ling dan Euna Lee,
oleh Korea Utara yang kita ketahui bersama sedang mengalami ketegangan cukup
besar dengan negara Amerika. Negara komunis ini mendapati mereka sedang
melakukan kegiatan jurnalistik di wilayah Korea Utara secara ilegal sehingga
mereka dituduh telah memata-matai negara ini. Akhirnya, kedua wanita ini
pun dikenai sanksi hukuman 12 tahun kerja paksa.
Mendengar berita ini, Amerika,
negara super power yang dikenal sebagai negara yang sangat protektif
terhadap warga negaranya, memanggil dan mengutus Bill Clinton untuk melakukan
sebuah misi. Clinton diminta untuk mengupayakan jalur diplomasi bagi
kedua wartawan ini agar dapat segera dibebaskan. SS, usaha ini ternyata
membuahkan hasil. Clinton berhasil membebaskan mereka sehingga presiden
dan rakyat Amerika pun memberikan sambutan serta apresiasi yang luar biasa.
Nah, mari kita berandai-andai.
Seandainya saudara menjadi Bill Clinton, apa yang kira-kira saudara
rasakan? Bangga, karena dipilih oleh sebuah negara super power
seperti Amerika? Atau senang, karena mendapatkan kepercayaan untuk
melakukan tugas yang mulia di mana tidak semua orang mendapat kepercayaan
ini? Jika hal ini yang saudara rasakan, saya pikir itu wajar.
Sangat manusiawi kalau kita merasa bangga dan senang ketika memperoleh misi
besar di mana tidak semua orang dipercaya untuk melakukannya.
Tetapi tahukah Saudara,
sesungguhnya kita yang ada di tempat ini adalah orang-orang yang juga telah
dipercayakan suatu misi yang besar dan mulia. Kita dipanggil untuk
melakukan perkara-perkara kekekalan, di mana tidak semua orang bisa
memperolehnya. Dan panggilan ini bukan berasal dari Presiden, Raja, atau
orang penting lainnya, namun dari Tuhan Yang Berkuasa, Raja di Atas Segala
Raja, Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini. Bukankah itu
merupakan kebanggaan yang luar biasa?
Saudara-Saudara,
sesungguhnya hamba Tuhan adalah orang-orang yang secara khusus dipanggil oleh
Allah untuk mengerjakan misi-Nya.
Setidaknya ada dua kebenaran yang
harus kita ketahui berkenaan dengan panggilan Allah ini…
I. Panggilan kita sebagai hamba Tuhan adalah
didasarkan pada anugerah-Nya semata (Ayat 1-8).
Saudara, saya tidak tahu
bagaimana perasaan Saudara sekalian ketika mengetahui bahwa Tuhan telah
memanggil Saudara untuk menjadi hamba-Nya. Mungkin ada diantara kita yang
merasa begitu tidak layak menerima panggilan ini. Tapi, mungkin juga ada
diantara kita yang menganggap, “ Oh, memang sudah sepantasnya Tuhan memilih
saya, karena saya adalah orang yang giat melayani Tuhan, saya fasih dalam
berbicara, saya pandai dan memiliki banyak karunia, serta rajin mengabarkan
Injil. Wah, pokoknya sosok hamba Tuhan tuh gue banget deh!”
Saudara, melalui perikop ini
sesungguhnya kita bisa melihat dengan jelas orang-orang seperti apa yang Tuhan
panggil untuk menjadi murid-murid-Nya. Menarik sekali kalau kita lihat
bagaimana Tuhan justru memilih dan memanggil orang-orang yang berasal dari tepi
Danau Genesaret. Tepi Danau Genesaret adalah satu daerah yang terpencil
dan cukup miskin, di mana mata pencahariaan utama penduduknya adalah menangkap
ikan. Orang-orang yang tinggal di sana rata-rata kurang terpelajar,
kurang sopan, dan tutur katanya pun kasar. Namun, Tuhan tetap memanggil
Simon, Yakobus dan Yohanes, yang menurut orang tampaknya tidak berkualitas,
untuk menjadi murid-murid-Nya.
Ketika Yesus tiba di tempat ini,
orang-orang saling berdesakan untuk mendekati Dia. Rupanya, mereka ingin sekali
mendengarkan pengajaran-Nya. Agar tidak terjepit diantara orang banyak,
Yesus pun akhirnya meminjam salah satu perahu, yaitu milik Simon dan memintanya
untuk menolakkan perahu tersebut sedikit jauh dari pantai. Kemudian,
Yesus pun mengajar dari atas sana.
Setelah selesai mengajar, Yesus
kembali meminta Simon untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan
jalanya. Saudara, saat itu rupanya hari sudah cukup siang. Simon
yang adalah seorang nelayan profesional pasti tahu bahwa menangkap ikan yang
paling baik itu seharusnya dilakukan di malam hari, bukannya di siang bolong
seperti ini. Pada siang hari, ikan-ikan justru akan turun untuk mencari
tempat yang lebih sejuk. Saya mencoba membayangkan apa yang kira-kira
dipikirkan Simon pada saat itu. Berbagai kebingungan dan keberatan
mungkin timbul di benaknya, “Hah, kembali lagi ke laut? Apa tidak salah?
Kami yang sudah terbiasa melaut saja semalaman sudah tidak berhasil
mendapatkannya, apalagi sekarang di siang bolong seperti ini? Ini
sesuatu yang mustahil! Lagipula, Yesus itu kan seorang Guru. Masa
lalunya pun tukang kayu. Ia pasti tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk
menjala ikan!” Sesungguhnya pernyataan-pernyataan seperti itu mungkin
saja terlintas di benak Simon yang notabene sudah ahli dalam menjala
ikan. Tetapi tahukah SS apa yang menjadi responnya saat itu? Simon
berkata, “Guru, telah semalam-malaman kami tak henti-hentinya menjala dan kami
tidak berhasil menangkap apa-apa. Tetapi, karena Engkau yang menyuruhnya,
aku akan menebarkan jala juga.” Ya Saudara, Simon tetap memutuskan untuk
mengikuti perintah Yesus. Walau bagaimanapun juga, Yesus adalah Guru yang
sangat ia hormati. Meskipun Simon mungkin tidak setuju dengan
pemikiran-Nya, meskipun saat itu Simon merasa sangat lelah dan ingin cepat
pulang, ia tetap menaati perintah Gurunya.
Dan kemudian mukjizat itu pun
terjadi, di depan mata Simon, di dalam perahu miliknya sendiri. Ia
gentar, bingung! Pikirannya kembali dipenuhi dengan
pertanyaan-pertanyaan, “Sesungguhnya siapakah Orang ini sehingga laut dan
segala isinya dapat tunduk kepada-Nya? Tidak mungkin seorang biasa dapat
melakukan mukjizat seperti itu karena jumlah ikan-ikan yang mereka peroleh jauh
melebihi batas normal sehingga peristiwa ini pasti bukan hanya kebetulan
belaka.” Tiba-tiba saja ia mulai sadar siapakah Yesus yang
sebenarnya. Pada saat itulah Simon langsung tersungkur di hadapan
Yesus. Ia merebahkan diri, berlutut dengan muka sampai menyentuh tanah
sebagai tanda hormat dan sembah. Lalu dengan gentar Simon Petrus berkata,
“Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”.
Saudara, perkataan ini sesungguhnya bukanlah permintaan kepada Yesus agar
segera pergi, namun lebih mengacu pada teriakan kebingungan, ketakutan, kegentaran,
karena Simon yang inferior harus berhadapan dengan Tuhan yang superior, dia
yang hanya ciptaan harus berhadapan dengan Sang Pencipta, dan dia yang berdosa
harus berhadapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa. J. I. Packer mengatakan
bahwa, “Seseorang yang telah mengalami mukjizat-Nya, tidak mungkin tidak
menyadari akan kehadiran serta kuasa Allah di dalam dunia ini.”
Sesungguhnya hal inilah yang dialami oleh Simon Petrus.
Dan hal yang serupa pernah
dialami pula oleh Nabi Yesaya saat Allah mendatanginya. Ia berkata, “Celakalah
aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku
tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat
Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” Saudara, saat berhadapan langsung
dengan kekudusan Allah, setiap orang pasti akan menyadari ketidaklayakan
dirinya.
Saudara-Saudara, siapakah
Petrus? Siapakah Yesaya? Siapakah saya? Dan siapakah saudara
di hadapan Allah? Sesungguhnya kita hanyalah orang-orang berdosa,
orang-orang yang sama sekali tidak layak di hadapan-Nya. Tidak ada satu
pun yang dapat kita banggakan di hadapan Allah Yang MahaKudus dan
MahaMulia. Namun, Ia telah memanggil kita untuk menjadi hamba-Nya.
Bukankah ini merupakan anugerah yang besar?
Ilustrasi
Saudara, pernahkah Anda mendengar
nama John Sala? Dia adalah seorang hamba Tuhan yang dipakai secara luar
biasa untuk melayani dan membina ribuan narapidana melalui pelayanan penjara
Little Lambs. Tahukah Saudara bagaimana masa lalu John? Saat
menginjak usia 30, ia telah keluar masuk penjara sebanyak 22 kali karena
terlibat dengan berbagai macam kasus, mulai dari kasus pencurian, pemakaian dan
penjualan obat-obatan terlarang, bahkan hingga kasus pembunuhan. Saat itu
hidupnya sudah benar-benar hancur. Ia dibenci oleh banyak orang, dianggap
sebagai sampah masyarakat, dan tidak ada satu orang pun yang mengasihinya,
termasuk keluarganya sendiri.
Tetapi, tidak demikian dengan
Tuhan. Dengan kasih-Nya, dengan anugerah-Nya, Tuhan memberi John
kesempatan untuk mengenal Kristus melalui pelayanan seorang pendeta di
penjara. Saat itu, hidupnya diubah secara total. Dan tidak berhenti
sampai di sana. Anugerah yang sama itu juga telah memanggil John kembali
ke penjara, tetapi bukan sebagai tahanan, melainkan sebagai hamba Tuhan yang
memperkenalkan kasih Allah kepada para narapidana. Saudara, coba pikirkan
siapakah sesungguhnya John Sala itu sehingga Tuhan mau memanggilnya?
Apakah dia memiliki kriteria yang baik untuk menjadi seorang hamba Tuhan?
Tidak! Tetapi…
Tuhan dapat mengambil bejana hina,
Membentuknya dengan kuasa
tangan-Nya,
Mengisinya dengan harta sangat
berharga,
Dan menjadikannya berkat luar
biasa.
Aplikasi
Jangan pernah lupakan hal ini,
Saudara. Sama seperti John Sala, kita pun hanyalah bejana yang
hina, pendosa-pendosa yang telah menerima anugerah-Nya. Karenanya,
janganlah kita sombong! Jangan pernah merasa bahwa diri kita memang layak
menjadi hamba Tuhan karena kehebatan-kehebatan yang kita miliki, kecakapan,
kepintaran, atau apapun kelebihan yang ada di dalam diri kita.
Sesungguhnya panggilan kita sebagai hamba Tuhan adalah karena anugerah-Nya
semata.
Saudara, panggilan Allah bagi
kita rupanya bukan hanya berbicara tentang anugerah saja, melainkan berbicara
juga mengenai suatu tujuan. Dan inilah yang menjadi kebenaran kedua…
II.
Panggilan kita sebagai hamba Tuhan adalah untuk menjangkau jiwa-jiwa
Penjelasan
Rasanya masih segar dalam ingatan
kita peristiwa bencana alam yang telah beberapa kali menimpa negara ini; mulai
dari tsunami, gempa, banjir, dan masih banyak peristiwa lainnya, yang telah
menewaskan ratusan ribu orang. Ketika melihat musibah ini, pernahkah
Saudara bertanya, “Berapa banyak diantara korban tersebut yang ternyata masih
belum mengenal Yesus sebagai Juruselamat?” Apa yang Saudara rasakan ketika
melihat realita ini? Saudara, sesungguhnya untuk orang-orang demikianlah,
yaitu orang-orang berdosa yang belum mengenal Kristus, kita dipanggil, diutus,
untuk menjangkau mereka.
Panggilan untuk menjangkau
jiwa-jiwa inilah yang disampaikan Yesus kepada Simon pada waktu itu.
Ketika Simon tersungkur dan menunjukkan ketakutannya yang luar biasa, Yesus
menenangkannya dengan berkata, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan
menjala manusia.” Dalam perkataan Yesus ini ada tiga frasa yang sangat
penting. Frasa yang pertama adalah perkataan “jangan takut”. Ini
merupakan frasa yang dikatakan Yesus kepada Simon untuk menyatakan bahwa
kehadiran-Nya pada saat itu bukanlah untuk menghukum Simon yang berdosa, tetapi
justru untuk menyatakan anugerah pangggilan-Nya seperti yang telah saya
jelaskan pada point pertama.
Frasa yang kedua adalah perkataan
“mulai dari sekarang”. Frasa ini rupanya sering dipakai oleh Lukas baik
dalam Injilnya maupun dalam Kisah Para Rasul. Frasa ini sesungguhnya
bukan berbicara mengenai kronologis waktu, tetapi berbicara mengenai suatu
perubahan mendasar dari kondisi sebelumnya. Simon yang tadinya adalah
seorang fishermen, kini menjadi fishers of men. Seorang
yang tadinya menjala ikan, kini menjala manusia. Seorang yang dulunya
hanya berfokus pada dirinya sendiri, kini hidup untuk melayani orang lain.
Dan frasa yang terakhir
adalah “menjala manusia”. Saudara, saya sempat bertanya-tanya mengapa
untuk memanggil Simon untuk menjadi murid-Nya, Yesus harus melakukan mukjizat
penangkapan ikan terlebih dahulu? Dan apakah tidak ada mukjizat lainnya?
Saya baru menyadari bahwa mukjizat penangkapan ikan tersebut bukan sekedar
dipakai Yesus untuk menyatakan kuasa-Nya sebagai Sang Mesias Yang Ilahi, tetapi
mukjizat itu sendiri memiliki makna profetik bagi pelayanan Simon di masa yang
akan datang. Ketika Simon diperintahkan untuk bertolak ke tempat yang
lebih dalam dan menebarkan jalanya, Yesus ingin menunjukkan bahwa kelak Simon
pun akan diutus pergi ke tengah-tengah dunia untuk menebarkan jalanya, yaitu
Injil keselamatan, dan membawa orang-orang yang terhilang kepada kepada Yesus
Kristus.
Di kemudian hari kita bisa
melihat bahwa Simon benar-benar menggenapi panggilan-Nya sebagai penjala
manusia. Ia berkhotbah di hadapan ribuan orang dan terhitung 3000 orang
bertobat. Simon pun menyembuhkan dan memperkenalkan kasih Kristus pada
seorang yang lumpuh di Bait Allah. Simon juga melayani Kornelius yang
merupakan orang kafir dan masih banyak lagi pelayanan yang telah ia lakukan
untuk menjangkau jiwa-jiwa yang masih terhilang.
Jelaslah bahwa perkataan Yesus
ini sesungguhnya berbicara mengenai anugerah panggilan yang telah Ia berikan
kepada Simon yang membawanya kepada pembaharuan. Simon yang tadinya hidup
untuk diri sendiri dengan mencari materi, sekarang menjadi hidup untuk Tuhan,
dengan cara menjangkau jiwa-jiwa.
Ilustrasi
Saudara-Saudara, ada seorang
nenek bernama Ethel Hatfield berusia 76 tahun yang rindu melayani Tuhan di masa
tuanya. Karena itu ia bertanya kepada pendeta di gerejanya apakah ia
boleh mengajar di Sekolah Minggu? Akan tetapi pendetanya justru berkata
bahwa Ethel mungkin sudah terlalu tua untuk melakukan semuanya itu.
Akhirnya, ia pun pulang ke rumah dengan hati yang sedih dan kecewa.
Apakah semangat Ethel Hatfield berhenti sampai di sini? Tidak!
Selang beberapa hari ketika Ethel
sedang merawat kebun mawarnya, seorang mahasiswa keturunan Cina dari kampus
dekat sana berhenti untuk mengomentari keindahan bunga-bunga mawarnya.
Ethel pun tidak melewatkan kesempatan ini begitu saja. Ia segera
menawarkan mahasiswa tersebut secangkir teh dan ketika mereka sedang
bercakap-cakap, Ethel menggunakan kesempatan tersebut untuk bercerita mengenai
Yesus dan kasih-Nya. Lalu keesokan harinya, mahasiswa tadi datang bersama
mahasiswa lain, dan itulah awal pelayanan Ethel.
Saudara, ketika Ethel meninggal
dunia, kurang lebih ada sekitar 70 orang keturunan Cina yang telah menjadi
orang percaya berkumpul di upacara pemakamannya. Rupanya mereka semua
telah dimenangkan bagi Kristus oleh seorang wanita yang dianggap terlalu tua
untuk mengajar kelas Sekolah Minggu.
Aplikasi
Saudara, Ethel adalah seorang
awam yang pernah ditolak oleh pendetanya karena usianya sudah tidak muda
lagi. Namun melalui kisah nyata ini kita bisa sama-sama mengoreksi diri
kita. Seorang tua seperti Ethel saja bisa memiliki kerinduan yang begitu
besar untuk melayani dan menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan, apalagi kita yang
masih muda.Bukankah kerinduan untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan itu
seharusnya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Ethel?
Saudara, sadarilah bahwa
sesungguhnya di sekeliling kita ini banyak sekali orang-orang yang masih
membutuhkan kasih Kristus. Orang-orang yang ada di rumah sakit, penjara,
dan jalanan, mereka semua adalah orang-orang yang bisa kita layani. Atau
jangan jauh-jauh dulu. Bagaimana dengan orang-orang terdekat kita yang
belum mengenal kasih Kristus? Mungkin orang itu adalah orang tua kita,
adik, kakak, saudara, anak-anak sekolah minggu, atau jemaat. Sudahkah
kita mengenalkan Kristus kepada mereka? Saudara, sesungguhnya untuk
merekalah kita dipanggil.
Penutup
- Jadi jelaslah bahwa panggilan yang kita terima adalah panggilan yang didasarkan pada anugerah Allah untuk menjangkau jiwa-jiwa, dan bukan untuk agenda yang lain. Kebenaran ini harus selalu kita bawa sebagai prinsip ketika kita melayani Tuhan.
- Bersyukurlah Saudara kalau kita telah menyadari kebenaran ini. Tetapi adakah diantara kita yang mulai menganggap diri layak dipilih sebagai hamba Tuhan, atau mungkin memiliki agenda-agenda pribadi, misalnya mencari ketenaran atau fokus pada hal-hal materi? Mari kita sama-sama menyelidiki hati kita. Jika memang benar kita mulai melenceng dari tujuan panggilan tersebut, bertobatlah. Mintalah pengampunan kepada Kristus supaya Dia benar-benar menjadikan kita seorang fishers of men yang sejati.
- Percayalah Saudara-Saudara, ketika kita menyadari bahwa panggilan itu adalah sebuah anugerah dan kita setia untuk menjangkau jiwa-jiwa, akan ada kekuatan ketika menjalaninya dan ada sukacita yang sangat besar ketika melihat jiwa-jiwa tersebut bertobat serta datang kepada Tuhan.
Amin. TUHAN YESUS MEMEBERKATI
Casinos Near Bryson City NC | MapYRO
BalasHapusFind Casinos Near Bryson City NC, NC in 광주광역 출장마사지 Bryson City, NC and other places to 진주 출장샵 stay closest 광주광역 출장샵 to 포항 출장마사지 Bryson City Casino, located in North Carolina 부천 출장안마 at 1201 Highway 35.